Dulu salah satu guru saya saat SMA mengatakan kalimat di atas. Dia bilang, salah satu pembentuk utama cara pikir seseorang adalah apa yang paling sering dia baca. Waktu itu era internet belum booming, jadi yang dimaksud dengan “baca” oleh guru saya adalah buku.
Sekarang di era media sosial yang penuh konten, masyarakat kita banyak membaca lewat ponsel, bukan lagi lewat halaman buku. Masalahnya, apa yang kita baca di linimasa tidak netral. Ada mesin di belakangnya yang menentukan konten mana yang muncul lebih dulu, dan mesin itu punya satu preferensi yang jelas: emosi yang kuat lebih disukai daripada emosi yang tenang.
Studi tentang penyebaran berita di platform digital menemukan bahwa konten yang memicu rasa takut atau marah cenderung disebarkan algoritma lebih luas dibanding konten yang faktual dan tenang, karena algoritma cenderung mendorong konten yang memicu keterlibatan tinggi, seperti rasa takut atau kemarahan. Bahkan dokumen internal Facebook yang sempat terbongkar menunjukkan hal yang lebih terang-terangan lagi: perusahaan itu sendiri menyadari bahwa algoritmanya mempromosikan konten penuh kemarahan demi mempertahankan perhatian pengguna, yang pada akhirnya bermuara pada keuntungan finansial. Di YouTube, polanya serupa. Studi Mozilla Foundation tahun 2021 menemukan bahwa 71 persen video ekstremis yang ditandai pengguna justru direkomendasikan oleh sistem, bukan dicari secara aktif.
Jadi ketika guru saya bicara soal “kamu adalah apa yang kamu baca”, saya kira beliau membayangkan pembaca yang memilih sendiri buku apa yang ia ambil dari rak. Hari ini, sebagian besar dari kita tidak lagi memilih. Yang dipilihkan untuk kita, dan yang dipilihkan itu cenderung berisi kemarahan, karena kemarahan yang menghasilkan klik, bukan ketenangan.
Saya tidak punya data yang secara langsung mengukur seberapa “mudah marah” masyarakat kita dibandingkan dulu. Tapi cukup masuk akal untuk bertanya: kalau setiap hari linimasa kita dipenuhi konten yang dirancang untuk memicu emosi negatif, apa yang terjadi pada ambang kesabaran kita lama-lama? Ini bukan soal orangnya yang berubah karakter dalam semalam, tapi soal pola konsumsi yang berulang, dan pola yang berulang itu yang membentuk kebiasaan berpikir.
Masalahnya jadi lebih rumit karena ada faktor lain yang ikut bermain, yaitu literasi. Skor PISA 2022 menempatkan Indonesia di posisi yang masih tergolong rendah dalam kemampuan literasi membaca, dengan skor 359 poin, lebih rendah 12 poin dibandingkan 2018. Literasi yang rendah bukan cuma soal jarang baca buku. Dalam konteks media sosial, ini berarti kemampuan untuk menahan diri sebelum percaya pada sebuah judul, untuk bertanya “siapa yang menulis ini dan apa motifnya”, juga ikut rendah.
Akibatnya bisa diduga. Judul yang bombastis bekerja paling efektif justru pada pembaca yang tidak punya kebiasaan membaca lebih dari judul. Judul itu memancing reaksi instan, dan reaksi instan itulah yang dikejar oleh algoritma. Dua hal ini, algoritma yang menyukai kemarahan dan literasi yang rendah, saling memberi makan satu sama lain. Algoritma menyodorkan konten provokatif, dan ketiadaan kebiasaan membaca kritis membuat konten itu mudah ditelan mentah-mentah.
Lalu apa yang bisa kita lakukan?
Saya tidak punya jawaban yang menyelesaikan masalah ini sampai ke akarnya, karena akarnya ada di level industri dan kebijakan platform yang jauh di luar kendali kita sebagai individu. Tapi ada hal-hal kecil yang masih bisa kita pegang.
Pertama, sadar bahwa linimasa bukan cermin dunia. Yang muncul di sana adalah hasil seleksi, bukan representasi proporsional dari apa yang sebenarnya terjadi. Kedua, membiasakan diri menahan jari sebelum membagikan sesuatu yang memicu emosi kuat. Jeda sebentar saja sering cukup untuk membedakan mana yang benar-benar penting dan mana yang sekadar dirancang untuk membuat kita bereaksi. Ketiga, dan ini yang paling dekat dengan kalimat guru saya dulu, sengaja menyisihkan waktu untuk membaca sesuatu yang lebih panjang dari satu unggahan. Tidak harus buku tebal. Cukup sesuatu yang memberi ruang untuk berpikir, bukan cuma bereaksi.
Guru saya benar lebih dari yang saya kira waktu itu. Hanya saja sekarang pertanyaannya bukan lagi buku apa yang kita baca, tapi siapa yang menentukan apa yang kita baca, dan apakah kita masih punya kendali atasnya.

Leave a comment