Ada satu momen yang hampir selalu terulang setiap kali saya mengajar.
Di akhir sesi, saya bertanya: “Sudah paham?” Kepala-kepala di depan saya mengangguk. Beberapa bahkan tersenyum. Suasananya terasa baik-baik saja. Lalu saya minta satu orang untuk menjelaskan ulang apa yang baru saja kita bahas bersama.
Sunyi.
Sunyi yang canggung, di mana semua orang tiba-tiba menemukan sesuatu yang sangat menarik di atas meja mereka.
Tidak ada yang benar-benar paham. Tapi tadi semua mengangguk.
Bukan Hanya di Ruang Kelas
Saya pikir ini hanya fenomena mahasiswa. Sampai saya mengalami hal yang sama di ruang rapat.
Dalam sebuah rapat persiapan project, semua anggota tim terlihat solid. Siap. Noted. On it. Semua kata yang meyakinkan terlontar dengan percaya diri. Rapat ditutup dengan perasaan bahwa kita semua satu frekuensi.
Pertemuan berikutnya tiba. Tidak ada satu pun yang sesuai dengan yang disepakati. Kebingungan yang sebenarnya sudah ada sejak rapat pertama akhirnya muncul ke permukaan tapi terlambat. Waktu terbuang. Energi terkuras. Kita mulai dari nol.
Saya pernah juga menyaksikan situasi lain yang serupa seseorang di rapat berkata oke, mengerti, siap, lalu pada pelaksanaannya semua berantakan karena ia bingung sendiri sejak awal.
Konteksnya berbeda, polanya sama persis.
Ada Nama untuk Ini
Psikologi punya istilah untuk fenomena ini: pluralistic ignorance.
Kondisi di mana hampir semua orang dalam satu ruangan sebenarnya tidak paham, tapi masing-masing diam karena mengira hanya dirinya sendiri yang tidak mengerti. Setiap orang melihat orang lain mengangguk, lalu menyimpulkan bahwa semua orang paham kecuali dirinya. Maka ia ikut mengangguk, agar tidak terlihat sebagai satu-satunya yang tertinggal.
Satu ruangan penuh orang yang bingung, tapi semua terlihat paham.
Yang membuat fenomena ini mengkhawatirkan adalah bahwa ia tidak memilih korban. Ia terjadi di ruang kuliah, di ruang rapat perusahaan besar, di forum kebijakan yang dihadiri para ahli. Semakin tinggi jabatan seseorang dalam ruangan itu, semakin besar tekanan untuk selalu terlihat paham, dan semakin dalam ia terperangkap dalam diam.
Sistem yang Mengajarkan Kita untuk Pura-Pura
Tapi mengapa kita seperti ini?
Jawabannya tidak lahir dari ruang kelas atau ruang rapat. Ia terbentuk jauh lebih awal dari itu.
Sejak kecil, tanpa disadari, kita diajarkan bahwa tidak tahu adalah kelemahan. Anak yang bertanya sesuatu yang dianggap terlalu mudah ditertawakan teman. Murid yang mengaku bingung dianggap tidak memperhatikan. Karyawan yang meminta penjelasan ulang dianggap tidak kompeten. Lama-lama, otak kita membuat kalkulasi yang sangat sederhana: risiko malu jauh lebih nyata dan lebih menyakitkan daripada risiko tidak mengerti.
Maka kita belajar mengangguk. Mengangguk adalah cara paling aman untuk bertahan di dalam ruangan.
Ketika saya bertanya “sudah paham?”, mahasiswa saya sebenarnya tidak sedang menjawab pertanyaan itu. Mereka sedang menyelamatkan muka di depan teman-temannya, di depan saya, dan mungkin yang paling penting, di depan diri mereka sendiri.
Biaya yang Tidak Pernah Kita Hitung
Kita sering menganggap anggukan palsu sebagai hal kecil yang tidak perlu dibesar-besarkan. Padahal coba hitung biayanya.
Sebuah keputusan rapat yang dijalankan tanpa benar-benar dipahami semua pihak. Sebuah briefing yang dianggap selesai padahal belum pernah dikonfirmasi. Sebuah project yang melenceng karena dari awal tidak ada yang berani mengangkat tangan dan berkata: “Saya belum jelas.”
Waktu terbuang. Kepercayaan terkikis. Dan yang paling ironis penjelasan ulang yang terpaksa dilakukan setelahnya justru menghabiskan waktu jauh lebih banyak daripada jika pertanyaan itu diajukan sejak awal.
Anggukan yang berbohong merugikan seluruh ruangan, bukan hanya si pengangguk.
Refleksi: Siapa yang Bertanggung Jawab?
Saya pernah frustrasi menghadapi mahasiswa yang mengangguk lalu ternyata tidak paham. Saya pernah frustrasi menghadapi anggota tim yang bilang siap lalu ternyata bingung.
Tapi lama-lama saya bertanya ke diri sendiri: apakah saya sudah menciptakan ruang yang cukup aman untuk mereka tidak paham?
Karena orang tidak akan bertanya di tempat yang menghukum pertanyaan. Mereka hanya akan mengangguk, dan menyimpan kebingungannya untuk nanti, ketika biayanya sudah jauh lebih besar.
Tanggung jawab menciptakan ruang aman itu ada di pundak siapapun yang memimpin ruangan dosen, manajer, pemimpin tim. Pertanyaan yang tidak pernah diajukan seringkali bukan tanda bahwa semua orang paham. Ia tanda bahwa tidak ada yang merasa cukup aman untuk tidak paham.
Dan itu adalah masalah yang jauh lebih serius dari sekadar tugas yang tidak dikerjakan.

Leave a comment