Merangkai Narasi, Memahami Manusia
Hai, Selamat datang.
Satu tulisan yang paling jarang saya buat, yaitu pengenalan diri sendiri. ijinkan saya mulai mendeskripsikan diri dalam satu kalimat, saya adalah seseorang yang menghabiskan lebih dari satu dekade mencari titik temu antara strategi komunikasi, data, dan perilaku manusia.
Mungkin pembuka diatas tidak familiar dan jarang digunakan. Namun, ini adalah bagian dari perjalanan hidup saya yang tidak dimulai di ruang rapat atau di balik meja kerja, melainkan di jalanan melalui lensa kamera dan catatan jurnalisme.
Dari Lensa ke Meja Strategi
Dulu, saya memulai mengenal manusia melalau street photography dan jurnalisme. Disitu saya belajar satu hal yang mengubah cara pandang saya selamanya, bahwa di balik setiap angka statistik dan kebijakan yang rumit, selalu ada denyut nadi manusia. Saya belajar untuk memperlambat waktu, mengamati detail kecil yang sering terlewat, dan mendengarkan cerita yang tak terucap.
Filosofi inilah yang saya bawa ketika melangkah hingga sekarang.
Selama 11 tahun, saya bertumbuh bersama Cyrus Network, memimpin divisi kreatif untuk menavigasi kampanye nasional dan mengelola isu-isu sensitif. Di sana, saya belajar melihat masalah dari “helikopter” untuk melihat gambaran besar sebuah masalah dan memahami sistemnya tanpa kehilangan pijakan pada realitas di lapangan.
Babak Baru: Mengabdi Lewat Narasi
Pada tahun 2024, panggilan itu membawa saya ke Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom RI).
Sebagai Tenaga Ahli Madya, tantangan saya kini berbeda. Bukan lagi tentang memenangkan kampanye, tetapi tentang memanusiakan kebijakan. Saya berfokus pada komunikasi berbasis data dan edukasi publik, memastikan bahwa pesan negara tidak hanya “sampai”, tetapi benar-benar dipahami dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Pengalaman ini semakin kaya ketika saya dipercaya mengorkestrasi komunikasi untuk forum internasional bersama UNOCT (PBB), sebuah momen yang mengajarkan saya seni menyatukan berbagai perspektif budaya dalam satu meja.
Di Sela-Sela Kesibukan
Ketika tidak sedang merancang strategi, Anda mungkin akan menemukan saya di lapangan tenis, atau kembali ke “cinta pertama” saya: berjalan kaki menyusuri kota dengan kamera di tangan.
Bagi saya, fotografi adalah ritual untuk menemukan jeda. Di tengah dunia komunikasi yang penuh dengan noise dan kecepatan tinggi, fotografi memaksa saya untuk berhenti sejenak, bernapas, dan kembali peka terhadap sekitar.
Apa yang Saya Percayai?
Dalam setiap langkah karier ini, ada tiga kompas yang selalu saya pegang:
- Berpikir Strategis – Selalu mulai dengan memetakan akar masalah, bukan sekadar merespons gejala.
- Bekerja Kolaboratif – Karena ide-ide paling brilian sering kali lahir dari benturan pemikiran di ruang yang terbuka, bukan di ruang tertutup.
- Berkomunikasi dengan Empati – Berusaha memahami sudut pandang publik, sebelum meminta mereka memahami sudut pandang kita.
Website ini adalah ruang kecil saya untuk berbagi pemikiran tentang semua itu tentang komunikasi, tentang manusia, dan tentang momen-momen yang terekam kamera.
Terima kasih sudah mampir. Jika Anda ingin bertukar pikiran soal strategi narasi, riset sosial, atau sekadar berdiskusi soal street photography, pintu saya selalu terbuka. Mari kita mulai percakapan yang baik karena cakapan yang baik sering kali menjadi awal dari perubahan yang berarti.
Salam hangat,
Titah Hari