Pandangan saya tentang konsep Amati, Tiru, Modifikasi (ATM) saat ini

Pernah mendengar tentang Konsep Amati, Tiru, Modifikasi (ATM)? Konsep ini pertama kali saya dengar saat saya masih menjalani masa kuliah. Pada waktu itu, konsep ini diajarkan sebagai suatu cara untuk mempelajari bagaimana menciptakan karya serupa. Konsep ini memberikan kemudahan dalam proses belajar, karena kita dapat mengamati dengan seksama sebuah karya, lalu berusaha menciptakan sesuatu yang senada dengan referensi tersebut.

Poin paling penting dalam konsep ini adalah modifikasi. Mengapa? Karena melalui modifikasi, kita memiliki peluang untuk menciptakan karya orisinal tanpa melakukan duplikasi mentah-mentah. Bagi saya, Konsep ATM ini adalah suatu langkah baik dalam proses belajar menciptakan sebuah karya. Kita mengetahui dengan jelas apa yang ingin kita ciptakan, hanya perlu menambahkan sentuhan-sentuhan pribadi sesuai dengan ide dan keinginan kita.

Sayangnya, konsep ATM ini merambah dunia industri, terutama sejak maraknya media sosial. Seringkali, kita menemukan konten-konten yang sebenarnya hanya merupakan modifikasi dari karya lainnya, di mana hanya kalimat dan tampilannya yang diubah sedikit. Selebihnya? Semua aspeknya tetap sama. Alur cerita, penggunaan musik, gerakan, dan segudang elemen lainnya memiliki kemiripan yang mencolok. Bahkan, pilihan kata-kata pun sering kali serupa, hanya objek atau subjek yang diganti. Bagi saya, hal ini hanyalah tindakan menjiplak belaka. Hanya sedikit sekali karya yang benar-benar orisinal yang dapat saya temukan.

Jika Anda meragukannya, silakanlah menggulir media sosial, dan Anda akan dengan mudah menemui contohnya. Ironisnya, agensi-agensi yang mengklaim sebagai kreatif justru sering terlibat dalam praktik pengulangan ini. Alasan utamanya adalah”riding the wave,” yang katanya dapat meningkatkan interaksi, dan akhirnya menaikkan KPI (Key Performance Index).

Jika kita membongkar lebih dalam, mengapa ini bisa terjadi? Saya melihat ini sebagai akibat dari tekanan waktu dalam menghasilkan karya. Seringkali, tenggat waktu untuk menciptakan konten sangat singkat, bahkan hanya dalam hitungan jam. Inilah awal munculnya masalah. Dalam proses kreatif, yang paling sulit adalah menemukan ide. Namun, ide tidak selalu muncul dengan mudah, kadang-kadang instan, kadang-kadang membutuhkan berminggu-minggu, sementara tenggat waktu terus mendekat.

Inilah yang mendorong banyak orang untuk menerapkan konsep ATM. Kompleksitas ini semakin meningkat saat harus segera merespons tren yang sedang populer. Akibatnya, karya-karya yang dihasilkan seringkali cenderung monoton. Efek sampingnya mencakup pencurian konten dari berbagai sumber tanpa memedulikan hak cipta, serta terjadinya burnout yang mendalam di kalangan pekerja.

Yang patut ditekankan di sini adalah, banyak orang ingin hasil dengan cepat, tetapi seringkali terlupa bahwa mencapai kecepatan memerlukan sumber daya yang substansial dan persiapan yang tidak sedikit.

Sebagai penutup, ada sebuah pepatah yang tepat digunakan untuk membenarkan konsep ATM ini, “there’s nothing new under the skies” (tak ada yang baru di bawah langit). Ya, memang, tidak banyak hal yang benar-benar baru, namun dalam samudra ide masih banyak yang belum terjamah, dan langit masih menyimpan misteri-misteri yang menanti untuk dipecahkan.


Comments

Leave a comment